Departemen Kehilangan yang Kehilangan Dirinya Sendiri

Di sebuah kota yang tidak ada di peta tapi sering macet secara emosional, berdirilah sebuah kantor pemerintah bernama:
Departemen Kehilangan.
Tugasnya sederhana: mengurus semua hal yang hilang.
Kunci.
Motivasi.
Tujuan hidup.
Sendok yang hilang padahal tadi di tangan.
Suatu hari, kantor itu panik.
Karena…
mereka kehilangan konsep “hilang”.
“Pak, kita kehilangan definisi kehilangan!” teriak staf bagian arsip sambil memegang map kosong yang sangat percaya diri.
Kepala departemen, Pak Darno, pria berwajah seperti printer error, menghela napas.
“Tenang. Coba cari di laci ‘hal yang mungkin hilang tapi pura-pura tidak’.”
Isinya cuma satu:
Harapan tahun 2019.
Di ruang tunggu, orang-orang antre:
— Seorang bapak kehilangan remote TV tapi masih yakin istrinya menyembunyikan demi ideologi.
— Seorang mahasiswa kehilangan alasan kuliah tapi masih hadir demi WiFi kampus.
— Seorang anak kecil kehilangan imajinasi karena disuruh “jangan aneh-aneh”.
Lalu masuk seorang pria membawa toples kosong.
“Saya kehilangan diri saya sendiri,” katanya.
“Sejak kapan?” tanya petugas.
“Sejak saya mulai hidup sesuai ekspektasi orang lain.”
Petugas langsung menekan tombol darurat:
LEVEL KEHILANGAN FILSAFATI.
Sirine berbunyi:
“WUUU WUUU ANDA HAMPIR SADAR AKAN ABSURDITAS WUUU.”
Sementara itu, di ruang bawah tanah, tersimpan barang paling berbahaya:
Kaos kaki yang hilang sebelah.
Konon, mereka membentuk peradaban sendiri. Punya sistem ekonomi. Mata uangnya karet gelang. Presiden pertamanya adalah kaos kaki hitam yang merasa dikhianati mesin cuci.
Tiba-tiba listrik padam.
Semua panik.
“Siapa yang mematikan realitas?!” teriak Pak Darno.
Dari pojok ruangan terdengar suara pelan,
“Maaf, saya tersandung makna hidup.”
Lampu menyala kembali, tapi gravitasi miring 15°. Semua orang berdiri dengan sudut eksistensial.
Pria bertoples kosong tadi melihat ke dalam toplesnya.
Tiba-tiba ada isi.
Sebuah kertas kecil bertuliskan:
“Anda tidak hilang.
Anda hanya belum ditemukan oleh versi diri Anda yang belum menyerah.”
Ia menangis.
Petugas ikut menangis.
Printer juga, tapi karena kertas macet.
Akhirnya, Departemen Kehilangan mengumumkan kebijakan baru:
Jika Anda merasa kehilangan arah, silakan duduk, minum air, dan tunggu. Kadang hidup cuma buffering.
Di luar, langit menutup aplikasi cuaca.
Angin logout.
Dan dunia lanjut berjalan seperti biasa:
Sedikit bingung.
Sedikit lucu.
Sangat tidak jelas.
Seperti seharusnya.

Postingan Populer