Filsafat Ubi yang Menolak Takdir
Suatu pagi yang tidak punya niat baik, seekor kursi memutuskan resign dari lantai. Ia merasa hubungannya toxic. Setiap hari diinjak gravitasi, diduduki manusia dengan masalah cicilan, dan tidak pernah sekali pun ditanya mimpinya apa.
Di sudut ruangan, sebuah jam dinding tertawa tanpa jarum. Katanya, “Waktu itu cuma mitos yang diciptakan manusia biar bisa telat dengan alasan yang terdengar ilmiah.”
Lalu masuklah seekor ubi rebus memakai dasi kupu-kupu.
Namanya Kevin.
Kevin bukan ubi biasa. Ia sedang dalam perjalanan spiritual untuk menemukan arti kehidupan, atau minimal arti “diskon 30% khusus member”. Ia pernah ikut seminar motivasi kentang, tapi pulang dengan trauma karena disuruh “keluar dari zona nyaman, masuk ke zona goreng”.
Kevin berhenti di depan cermin.
“Siapa aku?” tanyanya.
Cermin menjawab, “Pantulan sementara dari karbohidrat yang ragu.”
Di luar, hujan turun ke atas. Payung-payung menutup diri karena malu tidak berguna. Seekor kucing sedang debat dengan WiFi tentang makna koneksi yang sesungguhnya.
“Signal itu komitmen,” kata WiFi.
“Bullshit,” kata kucing, “kamu hilang pas dibutuhkan.”
Kevin menulis di buku hariannya:
“Hari ke-47 menjadi umbi di dunia yang tidak minta kita lahir. Aku mulai curiga bahwa takdir hanyalah Google Maps rusak: menyuruh belok ke jurang tapi dengan suara ramah.”
Tiba-tiba, langit membuka resleting realitas. Turunlah seekor ikan paus membawa map lamaran kerja.
“Siapa di sini punya pengalaman minimal 2 tahun sebagai eksistensi?” tanya paus.
Semua diam. Bahkan atom pun pura-pura buffering.
Kursi yang tadi resign akhirnya bicara,
“Aku 12 tahun jadi tempat duduk overthinking manusia. Skill: menahan beban, baik fisik maupun mental.”
Paus mencatat. Kevin mengangkat tangan kecilnya.
“Saya pernah direbus tanpa persetujuan. Saya mengerti penderitaan.”
Diterima.
Mereka pun berangkat naik lift yang menuju ke bawah langit. Di sana, realitas disusun oleh panitia yang salah baca SOP. Gravitasi kadang shift malam, logika sering cuti, dan kebetulan dipekerjakan sebagai manajer takdir.
Kevin akhirnya menemukan pencerahan:
Hidup itu seperti microwave kosmik.
Kita dimasukkan tanpa instruksi, diputar-putar oleh hal yang tidak kita pahami, lalu suatu hari ting! — selesai, tapi tidak ada yang tahu matang atau tidak.
Kevin tersenyum.
Ia tetap ubi.
Dunia tetap aneh.
Dan kursi akhirnya membuka usaha konseling.